Malaysia · Overseas · Traveling

18 Keseruan yang Bisa Dilakukan di Melaka (Bagian 1)

IMG_9568

Dua kali sudah saya bertandang ke Melaka, sebuah negeri bagian Malaysia yang memiliki sejarah berliku dan menarik untuk dikenali. Melaka merupakan nama negeri ini dalam Bahasa Melayu, sedangkan dalam Bahasa Inggris menjadi Malacca dan dalam Bahasa Indonesia menjadi Malaka. Sejak tahun 2008 lalu, Melaka dinobatkan menjadi World Heritage City oleh UNESCO bersama dengan George Town di Penang. Tidak mengherankan memang dengan melihat begitu kayanya nilai sejarah di Melaka yang dirawat secara apik oleh pemerintah Malaysia.

IMG_9596
Yes, can not agree more!

Pertemuan antara Barat (Portugis, Belanda, Inggris) dan Timur (Melayu, Tionghoa/Peranakan, India) di Melaka menjadikannya kaya baik dari sisi kebudayaan, kuliner dan tata kehidupan masyarakatnya. Berbagai bangunan peninggalan era penjajahan dan museum yang dikelola dengan baik menjadi sarana belajar dan wisata yang wajib dijelajahi saat berkunjung ke Melaka. Selain itu, tata kota yang rapi, bersih dan nyaman juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan, apalagi bagi saya yang merasa di Indonesia hampir belum ada kota yang tertata rapi 😦

Kali ini saya akan berbagi mengenai 13 hal seru yang dapat dinikmati saat jalan-jalan ke Melaka. Check it out!

1. Menginap di Hostel

Apabila berkunjung seorang diri ke Melaka, saya rekomendasikan untuk menginap di hostel. Kenapa? Pertama, harga hostel bagus di Melaka tergolong relatif murah dibandingkan Singapura. Kedua, umumnya hostel di Melaka bernuansa rumah ala Peranakan sehingga memberikan pengalaman menginap tersendiri. Ketiga, biasanya hostel menyediakan sewa sepeda dan heritage tour dengan harga murah atau bahkan gratis. Dan yang terakhir, bisa menambah kenalan atau setidaknya teman ngobrol bagi yang traveling sendirian.

IMG_9631
Bunker bed dan loker
IMG_9632
Ruang tamu hostel

Saat di Melaka, saya menginap di Ringo’s Foyer Guest House di Jalan Portugis. Tempatnya bersih, pemilik dan penjaga hostel ramah, serta jaraknya dekat ke Jonker Street. Per malamnya hanya 110 ribu rupiah untuk 1 capsule room yang nyaman di mixed dorm dan sudah termasuk dengan light breakfast.

2. Bike Tour ke Masjid Selat Melaka

Masjid Selat Melaka terletak di tepian Pulau Melaka, sebuah pulau reklamasi yang rencananya akan dijadikan wilayah residensial, perbelanjaan dan pelabuhan besar di Malaysia. Meskipun agak jauh dari pusat kota Melaka, sempat juga saya singgah ke sini karena pihak hostel tempat saya menginap menyediakan paket bike tour dengan hanya membayar 5 RM saja. Pihak hostel menjadwalkan bike tour ke Masjid Selat Melaka setiap sore jam 4.50 sehingga kita bisa menikmati senja menjelang di tepian Pulau Melaka.

IMG_9628
Tampak depan masjid
IMG_9626
Senja menjelang, lampu sorot hijau mulai dinyalakan..

Masjid yang kira-kira sudah ada sekitar 10 tahun lalu ini memang tidak besar-besar sekali dan setiap turis wajib menggunakan pakaian yang menutup aurat untuk masuk. Cowok akan dikasih sarung sedangkan cewek dikasih semacam baju abaya. Bersama bule-bule hostel yang ikut bike tour, akhirnya saya foto bersama di masjid ini. Cekrek!

IMG_5293
Agak random sih memang nyempil di antara bule-bule..
IMG_9627
Sisi belakang masjid yang instagrammable
3. Mengunjungi Bangunan Merah si Ikon Utama Melaka

Bangunan Merah atau dikenal juga dengan nama Dutch Square merupakan sebuah komplek bangunan yang terdiri dari Christ Church, The Stadthuys (balai kota) dan Menara Jam Tan Beng Swee (clock tower). Di dinding Christ Church, tertuliskan angka 1753 yang merupakan tahun selesai dibangunnya gereja tersebut pada era kolonial Belanda.

IMG_9594
Gereja di era Belanda, Christ Church Melaka

Di samping Christ Chruch, ada The Stadthuys yang dahulunya merupakan balai kota (city hall). Saat ini The Stadthuys sudah beralih fungsi menjadi museum sejarah yang menjabarkan historical timeline Melaka mulai dari zaman Kesultanan Melayu, zaman penjajahan Portugis, Belanda dan Inggris hingga era saat ini.

660.JPG
The Stadthuys dan Menara Jam Tan Beng Swee

Saat mengunjungi Dutch Square ini, muncul di benak saya tentang kawasan kota tua di Jakarta dan Semarang. Berharap sekali agar Indonesia bisa lebih serius mengembangkan kawasan kota tua peninggalan Belanda menjadi magnet pariwisata serapi di Melaka ini. Bisa dibilang Dutch Square ini merupakan destinasi paling ramai setelah Jonker Street Night Market. Baik itu musim liburan, akhir pekan atau pun hari biasa, lokasi ini pasti berjubel turis (Asia) mulai pagi, siang, sore sampai malam.

4. Naik Becak Gaul

Berbeda halnya dengan becak di Indonesia yang seolah termarjinalkan, di Melaka becak menjadi daya tarik wisata tersendiri. Meskipun terkesan lebay karena diseteli musik dan ditempeli berbagai hiasan boneka (Hello Kitty, Frozen, Pikachu, dll), tapi ternyata cara ini sukses menarik wisatawan mengucurkan uang 40 RM per jam untuk sekedar naik becak di Melaka.

IMG_9595
Becak heboh disediakan area parkir sendiri
IMG_9575
Kalau malam semakin heboh dengan lampu-lampu hias
5. Tour de Museum

Baru pertama kali saya lihat, ada kota yang memiliki museum dalam jumlah banyak dan berdekatan seperti di Melaka ini. Saat berjalan di sekitaran Bangunan Merah dan A Famosa setidaknya ada beberapa museum yang saya jumpai, seperti Museum Sejarah dan Etnografi, Museum Belia (Remaja) Malaysia, Museum Istana Kesultanan Melaka, Museum Dunia Melayu/Dunia Islam, Museum Setem (Perangko), Museum Rakyat, Museum UMNO (United Malays National Organization), Museum Sastra, Museum Islam, Museum Senibina (Arsitektur), Museum Layang-layang dan Museum Gubernur (Yang di-Pertua Negeri Melaka).

 

Sedangkan di sekitaran Jalan Quayside, dekat kaunter Menara Melaka River Cruise, terdapat museum yang menarik perhatian saya, yaitu Museum Samudera yang berbentuk kapal kayu berwarna coklat. Ternyata kapal ini merupakan replika dari kapal Portugis (Flor de La Mar) yang tenggelam di pantai Melaka saat dalam perjalanan kembali ke Portugal. Saya mencoba masuk ke dalam dengan membayar 10 RM (harga untuk turis asing-dewasa). Di dalam museum ini saya mengenal lebih jauh tentang sejarah Melaka, khususnya tentang kesibukan aktivitas perdagangan Melaka di era penjajahan Portugis, Belanda dan Inggris. Dengan membayar tiket Museum Samudera, saya sudah tidak perlu membayar untuk masuk ke Museum Tentera Laut Diraja Malaysia (Navy Museum).

IMG_9604.JPG
Museum Samudera

Sedangkan di sekitaran Jonker Street, setidaknya ada 3 museum yang menarik dan berkaitan dengan kehidupan etnis Tionghoa di Melaka, yaitu Museum Budaya Cheng Ho, Straits Chinese Jewellery Museum dan Baba & Nyonya Heritage Museum. Semua museum ini luar biasa menarik! Koleksinya lengkap dan terawat. Uang masuk untuk turis asing-dewasa adalah 10 RM untuk Museum Budaya Cheng Ho, 15 RM untuk Straits Chinese Jewellery Museum dan 16 RM untuk Baba & Nyonya Heritage Museum.

IMG_9583
Baba & Nyonya Heritage Museum
IMG_9584
Straits Chinese Jewellery Museum
6. Menengok Jejak Peninggalan Portugis

Portugis merupakan bangsa pertama yang memulai era penjajahan terhadap Kesultanan Melayu Melaka. Di beberapa titik di pusat kota Melaka, terdapat jejak peninggalan bangsa Portugis berupa Gereja St. Paul, Gereja St. Francis Xavier dan A Famosa.

Gereja St. Paul

Tepat di belakang Bangunan Merah, terdapat akses tangga menaiki bukit ke St. Paul Hill. Saya mengeksplor lokasi ini sekitar jam 8 pagi. Udara di atas bukit terasa sejuk karena banyaknya pohon-pohon besar dan lebat. Akses jalan tertata rapi dan terlihat beberapa orang lokal Melaka sedang jogging di sini. Di bukit inilah terdapat patung St. Francis Xavier dan reruntuhan bangunan gereja yang dibangun tahun 1513 tersebut.

IMG_9615
Patung St. Francis Xavier seorang misionaris agama Katolik di Asia Tenggara
IMG_9614
Sisa bangunan Gereja St. Paul

Gereja St. Francis Xavier

Gereja ini letaknya tidak begitu jauh dari Christ Church. Tepatnya ke arah Jalan Laksamana. Gereja ini dibangun tahun 1849 untuk mengenang jasa St. Francis Xavier dalam menyebarkan agama Katolik di Asia khususnya Asia Tenggara.

1092.JPG
Gereja St. Francis Xavier

A Famosa

Selain gereja, ada juga sisa-sisa bangunan benteng yang dikenal dengan nama A Famosa. Dulunya Portugis membangun kota bernama A Famosa atau Porta de Santiago dalam masa penjajahan di Melaka. Pemimpin pasukan Portugis saat itu mengingatkan saya akan pelajaran sejarah saat SD, yaitu Alfonso de Albuquerque. Bangunan yang terlihat sekarang sebenarnya hanya sisa pintu depan dari keseluruhan benteng A Famosa kala itu.

614.JPG
Sisa benteng A Famosa
7. Singgah dan Sholat di Masjid Bersejarah

Setiap berada di luar negeri, tentunya saya penasaran dan ingin mencoba sholat di masjid yang ada di sana, apalagi jika masjid tersebut menyimpan nilai sejarah yang menarik. Di pusat kota Melaka sendiri, setidaknya ada dua masjid bersejarah.

Masjid Kampung Hulu

Masjid yang dibangun sekitaran tahun 1700-an ini merupakan masjid tertua di Melaka. Interior dan eksterior masjid ini modelnya mirip-mirip dengan masjid-masjid tua di Sumatra dan Jawa. Atapnya berbentuk limas segiempat yang bertumpuk tiga serta terdapat lampu-lampu, mimbar masjid dan properti masjid lainnya yang bergaya Jawa.

IMG_9569
Masjid Kampung Hulu
IMG_9571
Mirip lampu-lampu di Jawa Tengah!

Masjid Kampung Kling

Bentuk masjid ini sekilas tidak berbeda dengan Masjid Kampung Hulu. Gaya arsitektur masjid ini sepertinya mendapat banyak pengaruh Hindu juga. Di samping masjid terdapat sebuah minaret yang juga mendapat pengaruh Tiongkok karena mirip dengan struktur pagoda. Nama Kampung Kling sendiri diambil karena dulunya banyak pedagang India Muslim yang singgah untuk sholat di sini saat berdagang di Melaka.

IMG_9623
K Kubah dan minaret Masjid Kampung Kling
IMG_9629
Sudut lain Masjid Kampung Kling
8. Melihat Makam Bersejarah

Di Melaka terdapat banyak makam-makam bersejarah. Mulai dari makam tokoh-tokoh di Kesultanan Melayu Melaka, makam Inggris/Belanda dan makam Tionghoa di Bukit Cina. Di sekitaran Bukit St. Paul terdapat akses jalan menuju makam Inggris/Belanda. Meskipun agak creepy, saya memberanikan diri karena penasaran. Makam-makam ini bercat putih, berukuran besar seperti peti mati dan berjejer dalam jumlah belasan.

590
Makam Belanda
599
Makam Belanda dan Inggris

Sedangkan makam tokoh-tokoh Kesultanan Melayu berada di antara pertokoan di orang Tionghoa. Saya sempat melihat makam Hang Jebat di Jalan Kampung Kuli dan makam Hang Kasturi di Jalan Hang Jebat. Makam ini pun dibeton dan dicat putih mirip dengan makam Inggris/Belanda.

IMG_9617
Makam Hang Jebat
IMG_9624
Makam Hang Kasturi

Selain makam tokoh dari Kesultanan Melayu, ternyata di dekat Klenteng Cheng Hoon Teng, tepatnya di Kampung Ketek, juga terdapat makam tokoh Islam dari Indonesia. Makam tersebut merupakan makam Syamsudin Al-Sumatrani, seorang ulama, sastrawan dan pahlawan dari Aceh di zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Beliau memimpin tentara Aceh saat membantu Melaka melawan penjajahan Portugis.

IMG_9585
Makam Syamsudin Al-Sumatrani
9. Berburu Street Art Keren

Ternyata tidak hanya di Penang yang banyak mural street art, di Melaka juga. Tepatnya di sebuah lorong di antara Jalan Kuli dan Jalan Tukang Besi, terdapat beberapa mural di dinding rumah penduduk. Di lorong ini juga saya menjumpai banyak sekali kucing-kucing, entah liar atau peliharaan yang lucu-lucu.  Baca juga: Berburu Street Art di George Town, Penang

10. Meneropong Melaka 360 Derajat di Menara Taming Sari

Dari atas Menara Taming Sari, bisa terlihat bagaimana rapinya lansekap bandar raya Melaka ini. Karena saat itu cuaca cerah, di sisi barat saya bisa melihat daratan luas yang merupakan Pulau Sumatra (mungkin Kota Dumai). Menari Taming Sari ini memiliki ketinggian 80 meter dan berputar 360 derajat. Tiket masuk untuk dewasa adalah sebesar 23 RM sedangkan untuk anak-anak sebesar 15 RM. Informasi lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

Untuk tempat-tempat seru lainnya di Melaka akan saya lanjutkan di Bagian 2. Baru bagian pertama saja rasanya sudah banyak sekali. Masih ada Jonker Street, Melaka River Cruise, dan lain-lainnya yang akan saya tuliskan kemudian..

 

2 thoughts on “18 Keseruan yang Bisa Dilakukan di Melaka (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s