Malaysia · Overseas · Traveling

18 Keseruan yang Bisa Dilakukan di Melaka (Bagian 2)

IMG_9577

Melanjutkan artikel sebelumnya, Bagian 1, saya akan menuliskan lagi beberapa hal seru yang bisa dilakukan di Melaka. Selain di area Bangunan Merah, daerah Jonker Street dan Sungai Melaka merupakan yang paling menarik untuk dikunjungi.

11. Menyusuri Sungai Melaka dengan Melaka River Cruise

Sungai Melaka yang bisa kita lihat sekarang, berbeda jauh kondisinya dengan sebelum tahun 2005. Dengan ambisi dan kerja keras pemerintah Malaysia, program restorasi sungai telah mengubah wajah Sungai Melaka tidak hanya dari sisi lingkungan dan sanitasi melainkan juga membawa daya tarik di bidang pariwisata.

IMG_9572
Melaka River Cruise di siang hari

Untuk bisa menikmati naik perahu ini, berlaku tarif tiket untuk turis asing dewasa sebesar 16 RM dan untuk anak-anak sebesar 7,5 RM. Saya memilih naik perahu ini di siang hari karena merasa bisa melihat lebih detail pemandangan di tepi Sungai Melaka. Perahu membawa saya menyusuri sungai sepanjang hampir 5 km mulai dari seberang hotel Casa del Rio, dekat Museum Samudera hingga Jembatan Hang Jebat (pulang-pergi total sekitar 10 km). Informasi lebih lengkap terkait Melaka River Cruise bisa dilihat di sini.

IMG_9696
Melaka Eye
IMG_0762
Mural street art di dinding rumah
12. Menikmati Jonker Street Night Market

Jonker Street atau Jonker Walk ini merupakan daerah Chinatown (pecinan) di Melaka. Bisa dibilang jalan ini merupakan surganya kuliner/restoran, barang-barang antik dan museum Peranakan di Melaka. Di hari-hari biasa sebetulnya kawasan ini tidak terlalu ramai dan bahkan beberapa toko tidak buka. Justru saat akhir pekan lah aktivitas di kawasan ini ramai luar biasa dengan konsep pasar malamnya.

IMG_9577
Keramaian Jonker Walk di malam hari

Jonker Street Night Market mulai buka di hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai dari jam 6 sore hingga 12 malam. Jadi, kalau ke Melaka sebaiknya sempatkan untuk bisa mendapati salah satu hari tersebut. Informasi lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

IMG_9576
San Shu Gong, salah satu toko besar di Jonker Street
IMG_9579
Street food
13. Berkunjung ke Klenteng Cheng Hoon Teng

Tepatnya di Jalan Tokong, terdapat klenteng tertua di Melaka, yaitu Klenteng Cheng Hoon Teng. Klenteng ini merupakan tempat ibadah Tridharma atau tiga ajaran, yaitu Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme sama halnya seperti di Klenteng Sam Poo Kong di Semarang.

IMG_9588
Bagian depan Klenteng Cheng Hoon Teng
IMG_9587
Altar puja klenteng
14. Jajan Es Cendol dan Jus Semangka Asli

Selama 2 hari berada di Melaka, saya jajan es cendol sampai 3 kali. Berhubung memang seharian jalan kaki di Melaka membuat saya haus dan butuh yang segar-segar, tapi juga karena harga es cendol di sini murah, hanya sekitar 4-6 RM. Es cendol ini banyak dijual mulai dari di street food, restoran hingga kafe-kafe. Yang wajib dicoba adalah jenis es cendol durian. Perbedaan dengan es cendol di Indonesia sepertinya pada penambahan kacang merah dan serutan esnya. Selain itu gula merah yang dipakai (Gula Melaka) juga rasanya cenderung berbeda dengan Gula Jawa meskipun sebenarnya sama-sama dari pohon kelapa atau aren.

IMG_9714
Es cendol di Jonker 88
IMG_9715
Es cendol durian di San Shu Gong

Selain es cendol, di Melaka juga banyak yang menjual jus semangka yang diblender langsung di dalam tempurung buahnya, tanpa gula tambahan. Harga jus semangka ini sekitar 6-8 RM tergantung dari ukuran semangkanya. Siang-siang di tengah teriknya matahari, jus semangka ini cukup ‘nampol’ meredakan dahaga.

IMG_9716
Jus semangka langsung di dalam buahnya
15. Menikmati Ragam Kuliner Melaka

Kuliner Malaysia bisa dibilang tipikal perpaduan 3 etnis utama di Malaysia, yaitu India, Melayu dan Tionghoa. Kuliner Melayu di Melaka merupakan yang paling saya cari karena di kota-kota lain Malaysia seperti KL, Penang dan Johor agak sulit juga menemukan kuliner Melayu.

Kuliner Melayu Melaka bisa ditemukan di kawasan Dataran Pahlawan dan Medan Selera. Saya menjajal mencicipi Asam Pedas yang sebenarnya sih memang banyak juga di Sumatra (Padang, Riau, Jambi). Tapi ternyata cita rasanya cukup berbeda dengan asam pedas Indonesia. Rasa asam lebih cenderung dominan terasa dan santan yg dipakai tidak sekental asam pedas Indonesia. Seporsi nasi, ikan asam pedas, sayur dan es milo di RM Asam Pedas Selera Kampung saat itu harganya sekitar 18 RM.

IMG_9718
Ikan dengan bumbu asam pedas
IMG_9719
RM Asam Pedas Selera Kampung

Di Medan Selera, tepatnya di seberang Museum Samudera, ada kantin sederhana bernama  Restoran Mariyam Majeedia. Setiap ke Melaka, saya selalu menyempatkan makan di kantin ibu ini. Harganya murah dan masakannya enak-enak. Yang saya paling suka adalah sotongnya, segar dan bumbunya nikmat.

IMG_9724
Makanan Melayu di Medan Selera
IMG_9717.JPG
Restoran Mariyam Majeedia – Medan Selera

Berhubung saya harus cari makanan halal, di kawasan Jonker Street saya agak ragu-ragu juga untuk makan chinese food. Tapi biasanya toko-toko di sana akan menuliskan logo halal atau setidaknya ‘no pork‘. Seperti halnya di Jonker 88, restoran paling terkenal di Jonker Street, mereka tidak punya logo halal tapi saat bertanya pada pemiliknya, mereka tidak menggunakan bahan babi apa pun. Di sini saya mencoba makan beberapa gorengan berbahan dasar seafood.

IMG_9725
Goreng-goreng di Jonker 88

Untuk masakan India di Melaka, bisa dicoba di Pak Putra Tandoori &  Naan Restaurant. Meskipun saya kurang suka masakan India, tapi saat itu sih terpaksa berhenti ke sini karena ikut rombongan bike tour. Naan merupakan roti tradisional India yang berbentuk tipis yang dipanaskan di dalam oven kemudian ditaburi sedikit rempah-rempah. Sedangkan ayam tandoori sebenarnya merupakan ayam bakar biasa.

IMG_9712
Naan dan Ayam Tandoori
16. Jalan dan Santai Sore di Tepi Sungai Melaka

Jalan-jalan sore menyusuri Sungai Melaka ini rasanya teduh dan nyaman. Sambil sesekali melihat perahu river cruise yang melintas, foto dengan latar mural street art dan minum teh atau kopi di kafe-kafe tepian sungai menjadi kenikmatan batin tersendiri. Kafe-kafe tersebut biasanya memang baru buka di sore hari dan akan tutup sekitar jam 10 atau 11 malam.

IMG_9593
Tepian Sungai Melaka di sore hari
IMG_9580
Jalan sore sambil people watching di sini seru juga..
IMG_9722
Mural street art yang paling laris di tepian Sungai Melaka
17. Belanja Oleh-oleh

Kalau saya, belum komplit rasanya jadi orang Indonesia kalau belum ‘ngeborong’ saat jalan-jalan. Di Melaka terdapat beberapa pusat belanja oleh-oleh seperti San Shu Gong, Pahlawan Walk, Dataran Pahlawan, Jonker Gallery, Medan Samudera Craft Centre dan lain-lain.

Saat mampir ke San Shu Gong, tidak sedikit saya mendengar suara orang-orang Indonesia yang sedang sibuk memilih-milih barang dan mencoba tester teh atau kopi. Di San Shu Gong ini memang dijual beraneka jenis teh dan kopi dengan merk Lao Qian. Selain itu ada juga dodol, es limau kesturi, aneka biskuit, mochi, selai durian dan lain-lain.

IMG_9590
Teh tarik dan kopi Lao Qian
IMG_9591
Dodol kelapa
IMG_9592
Favorit… Es limau kesturi + madu

Di Pahlawan Walk, pusat perbelanjaan di seberang Menara Taming Sari, kebanyakan yang dijual berupa souvenir seperti magnet kulkas, baju, topi  dan lain-lain. Tapi banyak juga oleh-oleh khas lainnya seperti dodol, selai dan cincaluk. Cincaluk ini bisa dibilang yang khasnya Melaka meskipun di beberapa daerah di Indonesia seperti Kepulauan Riau juga ada. Cincaluk sendiri merupakan udang kecil yang difermentasi dengan bantuan bakteri dan biasa digunakan sebagai tambahan pelengkap lauk.

IMG_9721
Pahlawan Walk
IMG_9603
Cincaluk
IMG_9601
Aneka oleh-oleh di Pahlawan Walk
IMG_9602
Aneka oleh-oleh di Pahlawan Walk
18. Menyaksikan Air Mancur Menari

Meskipun hampir di berbagai daerah di Indonesia air mancur menari ini juga sudah ada, tapi ternyata berhenti juga saya menontonnya saat sedang menyusuri tepian sungai. Air mancur menari dengan iringan musik Melayu ini  letaknya berada di dekat Hotel Wana Riverside.

IMG_0833.JPG
Melaka dancing fountain

Dua hari di Melaka memang kurang puas. Saya belum sempat singgah ke perkampungan lokal, seperti Kampung Morten (perkampungan masyarakat Melayu) dan Kampung Chetti (perkampungan etnis campuran Melayu dan India). Mungkin lain kali kalau ada kesempatan akan saya mampiri berhubung dari Pekanbaru ke Melaka tiketnya tidak terlalu mahal.

Oya, dari Pekanbaru ada 2 maskapai penerbangan langsung ke Melaka, yaitu Malindo Air dan Xpress Air. Harga sekali jalan biasanya sekitar 480 ribu rupiah. Penerbangan langsung ini sebenarnya lebih banyak mengambil pasar orang-orang Pekanbaru yang akan berobat ke rumah sakit di Melaka.

Sekian catatan perjalanan saya ke Melaka, Malaysia..

 

 

2 thoughts on “18 Keseruan yang Bisa Dilakukan di Melaka (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s